Sabtu, 28 Desember 2019

Di Jakarta Rindu-Rindu Membeku


di jakarta yang riuh dan terik
rindu-rindu membeku
membentuk jarum dan cutter
tajam, menusuk mata para pekerja
membilah keringat para pelancong
yang melepas dahaga keterbelakangan di pinggiran istana

di jakarta rindu-rindu membeku
oleh dinginnya mata para ibu dan anak jalanan
berbaring dengan pakian lusuh
di atas bahu trotoar,
tak sedikit merebah badan di bawah selangkangan rel kereta
yang kokoh, mulus tak bercela

di jakarta rindu-rindu membeku
cair oleh panasnya pembangunan
jalan raya tak boleh tak rata
apa lagi berlubang
para pekerja dan aspal bagai tikar plastik tak berwarna
menyerah ditempatkan di jalanan mana saja
untuk upah, pekerja diberi ketika bekerja

di jakarta rindu-rindu membeku
dingin, dan tak berwujud.


Rere Marselina/TD




Senin, 25 November 2019

Guru adalah Kutukan



Tungkudapur.com - Matahari sudah sejidat, Mina masih beralas kasur kepok, berselimut sarung. Hari ini hari Minggu, jelas saja ia masih tidur karena tak harus ke sekolah. Ke Gereja pun itu sore, karena Romo Brian harus bergantian memimpin misa di kapela lain.

Maklum, di Paroki yang terdiri dari tiga stasi ini hanya ada satu Pastor. Akses dari satu stasi ke stasi lain pun seperti lirik lagunya Colum Schoot "I'd climb every mountain and swim every ocean just to be a priest".

Seperti dalam cerita sebelumnya, Mina merupakan anak dari Bapak Yohanes Batu Bata dan Ibu Yosefina Nggewe.

Bapaknya seorang petani, sedangkan ibu Mina seorang guru kontrak daerah di sebuah Sekolah Dasar yang jauhnya lima kilometer dari rumah mereka.

Pukul 13.00 WITA, Mina terbangun karena riuh suara hujan membanting diri di atap rumahnya.

"Mina, bantu mama ambil ember di dapur. Tada air hujan," pinta mama Yosefina.

Mina lekas ke dapur, mengambil ember bak ukuran besar beserta jerigen bekas minyak goreng, lalu ditempatkan di luar. Sembari menyaksikan anak-anak hujan itu jatuh dan masuk ke dalam mulut jerigen.

Lima menit kemudian, Mina dan mamanya ke dapur. Membakar kayu di tungku berbatu tiga, menghangatkan diri sembari membakar singkong hasil kebun.

"Mama saya ada tugas dari sekolah untuk buat puisi. Mama bisa buat puisi kah?" tanya Mina.

"Puisi untuk apa?"

"Besok kan hari guru to. Kami harus baca puisi untuk guru, saat apel pagi."

"Oh itu gampang. Kau ambil buku dan balpoin su. Langsung catat."

"Uii nanti malam saja mama. Saya malas tulis. Kemarin saya catat PR Bindo sampai tangan bengkak."

"Nanti mama lupa."

"Baik su." Mina bergegas ke kamar mengambil alat tulis dengan raut wajah melemas.

............................

Keesokan harinya, Mina bangun pagi seperti biasa. Bersiap diri ke sekolah. Baju putih, rok biru, dasi, topi, sepatu hitam dan kaos kaki putih.

Pukul 07.00 WITA, lonceng sekolah berbunyi tiga kali. Semua murid berkumpul di halaman sekolah. Berbaris menurut kelas, yang pendek di depan, yang tinggi di belakang.

Upacara bendera pagi ini berbeda. Para guru berdiri berjejer di depan, seragam mengenakan kemeja PGRI, kemeja kebanggaan para guru.

Wajah para guru nampak tak berbeda dari sebelumnya. Mereka biasa saja. Mata mereka tetap memantau barisan para murid. Memastikan atribut barisan lengkap, tak ada yang duduk, ngobrol, apalagi tertidur.

Setelah usai Kepala Sekolah membacakan teks pidato dari pak Menteri Pendidikan menyambut Hari Guru, tibalah saat Mina membacakan puisi yang didedikasikan untuk para guru, yang dibuat oleh mamanya yang juga seorang guru, kemarin.

Mina maju dengan percaya diri, membawa secarik kertas berisikan puisi. Setelah menarik nafas panjang, akhirnya.....

"GURU ADALAH KUTUKAN"

Di kolong langit
Anak-anak manusia dilahirkan
Dibesarkan,
Disekolahkan,
Dan jadilah ia yang kau sebut Guru.

Guru adalah kutukan!
Kutukan untuk memberi,
Meski tak diminta.

Kutukan untuk mengajar
Meski yang diajar kurang ajar.

Kutukan untuk mampu,
Meski tak diberi penunjang bermutu.

Kutukan untuk merayakan hari ini.*


*Selamat Hari Guru*


Rere Marselina/TD





Rabu, 13 November 2019

Selangkangan dan Dua Bungkus Kopi



Tungkudapur.com - Maria Moki Mina biasa disapa Mina adalah puteri tunggal dari pasangan suami isteri Yohanes Batu Bata dan Yosefina Nggewe. Keluarga kecil ini hidup di sebuah desa bernama Nukatalo di atas bukit.

Mina tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang cantik dengan rambut ikal berwarna hitam, dan bibir tipis merah muda yang tak pernah kering, meski musim berganti. Ia adalah jelmaan dewi cahaya yang kerap menerangi mimpi malam para lelaki desa yang gelap, yang selalu ingin menyetubuhinya.

Bapak Mina, Yohanes Batu Bata adalah seorang petani kopi yang lebih suka minum kopi Kapal Lela berbungkus plastik ketimbang kopi hasil kebun sendiri.

“Mina, putar kasi Bapa kopi dulu. Pake gelas Wings yang besar. Dua bungkus ee,” pinta Batu Bata pada putrinya.

“Bapa, kopi Kapal Lela sudah habis. Putar kopi biasa saja e,” jawab Mina, sembari berharap diiyakan.

“Kau pergi bon dulu di kios sana. Bapa tidak bisa minum kopi biasa. Kapal Lela lebih enak. Sekalipun kau pu bapa ini tidak pernah naik Kapal Lela, setidaknya kopinya saja dulu,” jawab Batu Bata dengan tersenyum.

Tanpa berkata lagi, Mina bergegas ke kios Om Bingu Riku, menyampaikan niat mengutang dua bungkus kopi Kapal Lela. Seperti biasa, Om Riku mengiyakan. Memberikan dua bungkus kopi Kapal Lela, sambil mencatat nama dan jumlah hutang di buku bon.

Setiap pagi, jika kopi Kapal Lela di rumah habis, Mina selalu pergi mengutang. Utang-utang itu akan dibayar ketika kopi hasil panen dari kebun sudah laku terjual di pasar. Begitu setiap harinya, setiap minggu, setiap bulan dan setiap tahunnya.

Mina telah tamat SMA di kota dan hendak melanjutkan kuliah. Namun, karena keterbatasan biaya, ia harus beristirahat setahun dulu di kampung, membantu orangtuanya, Batu Bata dan Nggewe.

Ibu Mina, Yosefina Nggewe adalah seorang guru Sekolah Dasar yang setiap hari menempuh perjalanan kaki sejauh 5 KM untuk tiba di sekolah dimana ia mengajar sebagai guru kontrak daerah dengan upah 300 ribu rupiah dibayar setiap enam bulan sekali. Setahun kedepan, tugas Mina hanyalah menjaga rumah, membersihkannya, menyiapkan makanan untuk orangtuanya. Di waktu senggangnya, setiap sore pukul tiga, Mina mengajari anak-anak kampung untuk membaca dan menulis, kadang juga bahasa Inggris.

Pada suatu sore di bulan November, Mina bertemu dengan seorang lelaki hitam manis, anak kampung sebelah ketika menonton pertandingan bola merayakan ulang tahun Gereja. Lelaki itu bernama Sani.

Mina dan Sani saling menaruh perasaan sejak pertama bertemu dan berpacaran setelah Sani dengan berani mengajak Mina untuk bicara empat mata di belakang Gereja, ketika semua orang sibuk berteriak menyoraki pertandingan bola.

“Mina, sejak awal saya kagum. Setiap perkumpulan laki-laki, mereka selalu sebut Mina punya nama. Ternyata benar, kau memang cantik. Sejak pertama kita ketemu, saya sudah jatuh hati. Sekarang saya beranikan diri untuk ungkapkan saya punya perasaan. Kau mau tidak jadi saya punya pacar?” tanya Sani sembari mencoba memegang tangan Mina. Dan dengan cepat Mina menyatakan mau tanpa  malu.

Setelah hari itu, Mina dan Sani kerap bertemu di belakang gereja setelah misa hari Minggu. Pertemuan itu tak berlangsung lama, hanya sekitar 600 hingga 900 detik. Saling memegang tangan, bercerita dan kadang Sani mencuri kesempatan mencium pipi Mina.

Usia hubungan sudah memasuki hari ke 46. Lewat surat, Sani mengajak Mina bertemu di belakang gereja, pada malam Natal seusai misa.

Mina mengiyakan. Dua sejoli ini pun bertemu. Suasana terasa berbeda tak seperti pertemuan biasanya karena gelap menyelimuti, hanya terang bulan dan bintang, dan juga bunyi jantung yang berdetak tak menentu.

“Mina, ada hal penting yang ingin saya sampaikan.”
“Ada apa?”
"Tapi kau harus jawab dengan jujur."
"Iya. Apa?"
“Apa kau masih perawan?”

Mina diam, tak berkata apa-apa. Jantungnya berdetak semakin kencang, dadanya terasa sesak.

“Saya hanya ingin tahu.”

Mina tetap diam, tidak bersuara. Hanya nafasnya, terputus – putus diiringi suara jangkrik dan katak dari semak-semak.

“Mina……,”
“Kenapa memangnya?"
"Saya hanya mau pastikan saja. Banyak orang bilang, kalau kau sudah tidak perawan lagi,"

Mina terdiam. Tak bersuara.

"Mina....,"
"Kalau masih kenapa? Kalau tidak kenapa?"
“Kalau masih yah tidak apa-apa. Kalau tidak, hubungan kita sampai disini saja,"
"Ada apa dengan keperawanan itu? Selama ini, bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk bertanya dan mencari tahu tentang keperjakaan kau."

Sani tertunduk dan diam. 

"Apakah hidup ini hanya soal selangkangan perempuan?"
"Bukan begitu. Saya hanya tidak ingin dicemooh karena berpacaran dengan perempuan bekas."
"Perempuan itu manusia. Terbentuk oleh darah dan daging juga tulang. Sama seperti kau. Tapi anehnya, kebanyakan manusia lainnya menganggap kami seperti barang. Yang sudah bersetubuh dan disetubuhi dilabeli bekas.Miris."

Sani diam, tidak berkutik sedikit pun.

"Saya merasa bahagia. Karena keperawanan yang kalian idam-idamkan itu telah saya jual demi kebahagiaan bapak saya, yang menikahi ibu tanpa menanyakan selangkangannya. Saya merasa bangga, ketika keperawanan yang kalian agung-agungkan itu, saya jual demi segelas kopi Kapal Lela untuk bapa setiap pagi, dan juga untuk menghapus bon ibu yang menumpuk."

"Mina, Mina, Mina.."
"Ada Apa Bapa?"
"To'o se. Ana ata fai roke ria raka do leja toki loge. To'e se!! Kita we mbana uma, mbana pu'i kopi." (Bangun sudah.. Anak perempuan tidur sampai matahari pukul pantat. Bangun!! Siap-siap. Kita ke kebun mau petik kopi.)

Mina bangun. Mengusap mata, menampar pipi kiri dan kanannya. 
"Ternyata tadi mimpi. Syukurlah," ujarnya sambil tersenyum.


 Pada selangkangan, mata pisau penjuru dunia bermuara. Dari selangkangan, luka tubuh perempuan menganga. (Maria Moki Mina)”

Keterangan: Kapal Lela (Pesawat) - Bahasa Ende Lio

Karya: Rere Marselina/TD








Selasa, 03 September 2019

Pandora, Kotak Kehidupan Tubuh Perempuan dari Oka Rusmini


Tungkudapur.com - Membaca dan memaknai puisi bagi saya lebih sulit dibanding cerpen dan novel yang runut dan tidak patah. Puisi menantang kepekaan dan kesadaran pembaca agar dapat dimengerti dan diresapi maknanya. Oleh karena itu, untuk membaca puisi, saya selalu menggunakan waktu tengah malam, butuh keheningan menyerap tiap baitnya.

Secara pribadi, jika boleh, saya lebih memilih membaca puisi yang bahasanya sederhana, dapat dimengerti dengan cepat tanpa harus menunggu  seisi kost tidur (demi kesehatan juga sih hehehe). Tapi puisi berbeda, ia berupa ungkapan persaan penciptanya. Sehingga gaya bahasa, rima dan irama yang digunakan juga bergantung pada pencipta.

Tiga bulan lalu, saya diperkenalkan dengan Oka Rusmini oleh seorang teman melalui permintaan hadiah ulang tahun yang penuh paksa. Perkenalan tersebut membuat saya penasaran akan buah pemikiran dan isu yang diangkat oleh Oka yang kata teman saya, cocok untuk manusia seperti saya ini  hahaha.

Setelah melahap habis hidangan yang disajikan Oka dalam Sagra (Cerpen, 2001) dan Tempurung (Novel, 2010) pada perkenalan pertama kami, saya yang dahulu hanya mengenal Ayu Utami dan kelugasannya semakin penasaran dengan hidangan Oka pada buku-buku lainnya.

Alhasil, tiga minggu lalu saya menemukan hidangan lain dari Oka, berupa puisi berjudul Pandora (2008) di Gramedia Matraman.

Pada buku tersebut, Oka Rusmini dengan terang-terangan dan lugas menuangkan segala pengalaman hidup dan masa lalunya dalam bait-bait puisi. Bagaimana ia sebagai seorang manusia, perempuan, dan juga ibu, dijadikan hidup dalam kotak Pandora.

Seperti dalam penggalan puisi dibawah ini, Oka secara gamblang menghidupkan luka dan haru menjadi seorang perempuan yang mengandung dan melahirkan kehidupan baru dari mulut rahim dan disambut selusin tanggungjawab.

Bagaimana memahat luka, lelah tubuh perempuan menjadi harapan yang hidup. 

“Lelahkah kau? Terbang dengan sayap patah yang meleleh ditiup kisah percintaan. Lelakikah dia? Atau lumut yang mengisap mata air hidupmu? Mari mendekat. Biar kuhangatkan engkau. Dongengkah yang kau pinta? Atau tubuhku?” (Lumut, Hal 12)

Pada puisi-puisi selanjutnya, ia menghidangkan tubuh perempuan dan posisinya dalam hubungan keluarga. 

“Saat perempuan mencangkul puisi, lelaki mengeram sambil mendekap seluruh akar-akar tubuhnya. Kita menghidangkan dunia. Meremas seluruh lubang tubuh agar hidup tetap bergulir” (Pandora, Hal 28).

Kotak Pandora dan Legenda

Konon dalam mitologi Yunani, Pandora merupakan perempuan pertama yang diciptakan Zeus yang  dinikahkan dengan Epimetheus. Pada hari pernikahan mereka, para dewa memberikan hadiah berupa kotak yang indah. Namun, Pandora dilarang membukanya.

Karena didorong rasa penasaran yang kuat, Pandora kemudian membuka kotak tersebut. Setelah dibuka, terdengar suara kerumunan sesuatu dengan cepat keluar dari kotak tersebut dan terbang. Ia pun sadar telah melepaskan teror pada dunia yakni, masa tua, rasa sakit, kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, kelapan, dan berbagai malapetaka lainnya.

Semua keburukan itu menyebar ke seluruh dunia dan menjangkiti umat manusia. Pandora kemudian menyesal atas perbuatannya. Ia kembali menoleh ke dalam  kotak,dan didapatinya sesuatu yang tersisa yakni, harapan.

Tentang Oka Rusmini

Oka Rusmini dengan nama lahir Ida Ayu Oka Rusmini lahir di Jakarta , 11 Juli 1967. Ia tinggal di Denpasar, Bali dan giat menulis puisi, novel dan cerita pendek. 

Selain menulis, ia juga merupakan seorang istri dan ibu, dengan segudang kesibukan dan pekerjaan domestik yang tak bisa dilepas. Seperti yang dijelaskan dalam pengantar buku Pandora , ia sedikit mengalami kesulitan dalam menulis, puisi misalnya. Karena terus dihalangi oleh urusan perempuan dan rumah tangga.

“Saya terus direcoki urusan yang bagi perempuan lain mungkin tidak berpuisi lagi setelah menikah, terlebih bila ada anak. Saya harus membagi waktu untuk urusan domestik, tugas kantor, pergaulan sosial, dan lain-lain. Segala tetek-bengek keseharian yang terasa dangkal, tapi harus dilakoni sangat mencekik waktu kreatif saya,” ungkapnya. (Menjelang Kata, Hal 1)

Namun, ia bersyukur karena keterbatasan tersebut malah menjadi ladang kreatif baginya sekaligus pencucian otak dan jiwa, menjadi roh kreatifnya sebagai perempuan.

“Barangkali karena setumpuk kerepotan itu sesungguhnya tidak terpisahkan dari proses perkawinan, mengandung, dan memuntahkan makhluk hidup dari tubuh yakni rangkaian peristiwa besar yang hanya dimiliki perempuan.” (Menjelang Kata, Hal 1)* (MPR/TD)

Note: Kebebasan dan kesetaraan sebagai seorang perempuan dapat diraih dengan banyak membaca dan juga menulis. Muntahkan saja isi pikiranmu Nona, Muntahkan!!! (MPR)


Sabtu, 24 Agustus 2019

Menulis Menjadikan Perempuan Sebagai Subjek Perubahan


Tungkudapur.com - Keterlibatan perempuan dalam dunia tulis menulis dan terutama dalam pers itu ditandai dengan peristiwa diterbitkannya koran Poetri Hindia untuk pertama kalinya pada 1 Juli 1908. Koran ini merupakan buah tangan Raden Mas Tirto Adi Surjo dan R.T.A Tirtikoesoemo.

Menurut Pram seperti yang tertulis dalam buku Sang Pemula terbitan Lentera Dipantara (2003), nama Tirtokoesoemo, bupati Karanganyar diterakan sebagai pimpinan Poetri Hindia lantaran ia seorang presiden Boedi Oetomo setelah 1909. Selain itu, Tirto bermaksud agar istri sang bupati sudi menulis bahkan terlibat dalam berkala yang terbit dua kali dalam sebulan itu.

Kondisi sosial pada waktu itu dimaksudkan agar setidaknya dengan pengetahuan yang didapat dari mengelola koran, membaca, maupun menulis di surat kabar khusus perempuan, dapat membangkitkan kesadaran tentang arti pengetahuan dan kemajuan perempuan, serta berimbas pada kaum perempuan di wilayahnya masing-masing. Hal ini terbukti ampuh, pada terbitan 13 April 1910, nama R.A.S. Tirtokoesoemo tertulis dalam deretan nama Hoofderedactries.

Jauh sebelum munculnya koran Poetri Hindia yang bertuliskan “SOERAT KABAR DAN ADVERTENTIE BOEAT POETRI HINDIA” tersebut, Tirto Adhi sudah membuka ruang seluas-luasnya bagi wanita pribumi pada surat kabar berbahasa Melayu Soenda Berita yang terbit pertama pada Februari 1903. 

Hal ini dibuktikan dengan munculnya rubrik-rubrik seputar dunia rumah tangga pada lembaran wanita tersebut. Tirto menuliskan pemikirannya yang diberi judul “Pengajaran Buat Perempuan Bumiputera”, Soenda Berita, Th. II No. 20, 1904 (Hajar Nur Setyowati, BASIS Edisi Januari-Februari 2009 Hal. 19).

Dalam deretan struktur redaktris Poetri Hindia tersebut memang tercantum kali pertama adalah nama Mevrow (Nyonya) J. Binkhorst-Martel yang adalah bukan seorang perempuan pribumi tulen. Tetapi, pada deretan nama selanjutnya muncul nama-nama perempuan pribumi seperti: R. A. Hendraningrat, istri Hendraningrat yang adalah Asisten Wedana Teluknaga, Tengerang; R. A. S. Tirtokoesoema, istri bupati Karanganyar; R. A. Soetanandika, Ciamis; R. A. Fatimah, Mr. Cornelis; R. A. Tirto Adhi Soerjo; S. N. N Salim, Fort De Kock; R. A. Mangkoedimedjo, Yogyakarta; dan R. A. Gandaatmadja, Bandung.

Pada tahun terbitan keempat (1911) posisi redaktris kepala hanya oleh satu orang, seorang perempuan pribumi, R. A. Hendraningrat. Malang tak dapat dihindarkan, koran perempuan ini harus tertahan akibat sikap kritis Tirto yang berujung susutnya iklan dan disusul pembuangannya ke Telukbetung dan Ambon.

Meski demikian, kehadiran koran Poetri Hindia memiliki arti yang sangat dalam. Pertama, ketimbang ruang wanita pada surat kabar umum, Poetri Hindia jauh lebih leluasa menyoal perempuan dengan kuantitas halaman lebih banyak. Kedua, Poetri Hindia adalah wadah jurnalis perempuan menempa diri. Ketiga, kehadiran koran perempuan setidaknya membuka wawasan perempuan soal posisinya sebagai subjek perubahan.

Dalam bukunya berjudul Sarinah, Soekarno secara lugas menekankan bahwa perempuan adalah pelaku pembentuk peradaban dunia dimulai sejak jaman berburu dan meramu, bercocok tanam hingga kemudian hidup menetap di suatu tempat. Posisi perempuan memegang peran yang sangat penting dalam setiap elemen kehidupan masyarakat. Dengan kehadiran banyak media sekarang ini seharusnya menjadi ruang dan wadah bagi para perempuan kita untuk mengeksplorasikan diri dalam kehidupan masyarakat kita sehari-hari.

Perempuan sudah saatnya berunjuk gigi untuk meretas persaingan global untuk mendapat posisi yang sama dengan laki-laki. Kita juga harus sadar bahwa upaya pembelaan terhadap kaum perempuan, merupakan salah satu penyebab enggannya perempuan dalam memperjuangkan nasibnya sendiri. Gulingnya rezim Orde Baru dibawah kekuasaan diktator Soeharto harus kita catat sebagai hasil dari perjuangan kaum perempuan.

Pada waktu itu, awal pergolakan demonstrasi mahasiswa di seluruh tanah air berawal dari demonstrasi beberapa aktivis perempuan yang memprotes kenaikan harga susu. Kemasan yang sangat memukau membuat kepentingan politik dibalik aksi tersebut berhasil melecut mahasiswa untuk kemudian harus turun ke jalan memperjuangkan sebuah era baru, era reformasi.

Meski cerita-cerita itu kemudian hanya menjadi angin lalu, tetapi sejarah pernah mencatat bahwa perempuanlah aktor di balik setiap peradaban manusia. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah sampai kapan kita semua, perempuan-perempuan di seluruh tanah air tenggelam dalam euforia cerita masa lalu yang berakibat pada meruangnya pikiran itu? Harus kah pemikiran kita soal perempuan hanya berkisar soal kasur, sumur dan dapur?

Jawabannya tentu tidak. Menulis bisa menjadi media yang tepat untuk memampukan perempuan dapat mendobrak tembok yang mengungkungnya. Bisa melalui cerpen, artikel, opini, puisi dan lainnya. 

Seperti halnya Kartini: dia menyuarakan jeritannya melalui tulisan ketika dalam pingitan, seolah ia tak kehabisan akal atau ide untuk menyerukan pembebasan atau perubahan untuk rakyatnya. Dengan menulis (juga membaca), Kartini bisa berkenalan dengan dunia modern. Tulisan-tulisannya mampu menghantarkan Kartini pada kebebasan dunia luar. Tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk manusia sebangsanya dalam mendapatkan kemerdekaan.

Simone De Beauvoir, penulis sekaligus aktivis feminis asal Perancis itu, pernah bilang begini: “sastra adalah situs yang sangat penting, sebab melalui sastra dapat terungkap berbagai fenomena tentang perempuan” (Ahyar Anwar, 2009).

Simone De Beauvoir benar. Tulisan bisa dijadikan sebagi respon terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kaum perempuan dan rakyat. Seperti dikatakan Kartini sendiri, “menulis adalah tugas sosial.” Selain sebagai sarana menampilkan diri dan pemikiran, tulisan juga bisa menjadi senjata kaum perempuan untuk menggugat dominasi patriarkhi.  

Oka Rusmini, misalnya, melalui Novel berjudul “Tarian Bumi”, menyuarakan banyak persoalan perempuan, seperti soal seks, tubuh, ketimpangan gender, perlawanan terhadap patriarki, hingga isu lesbianisme.

Banyak penulis perempuan muncul sebagai tokoh berpengaruh melalui tulisan di berbagai bidang, seperti politik, sosial, budaya, ekonomi, filsafat, dan lain-lain. Melalui teks, seorang perempuan maupun laki-laki, entah dengan gaya berbeda, bisa melepaskan keterkungkungan dan belenggu dirinya.

Singkat cerita, di tengah kungkungan sistem yang menindas, yakni feodalisme dan kapitalisme, menulis bisa menjadi sarana bagi kaum perempuan untuk bertindak dan merepresentasikan tubuh, perasaan, dan sikap politiknya. Menulis adalah manifesto kesadaran diri dan sosial seseorang. Seperti yang tengah dirintis oleh pemilik blog ini.

Oleh: Andi Andur 
Penggemar Lisa Blek Ping 

Hidup Bahagia Ala Bhikkhuni Buddha

Tungkudapur.com - Thailand merupakan negara dengan destinasi wisata budaya dan religi yang banyak dikunjungi di Asia Pasifik. Banyak wisatawan asing datang, menelusuri setiap jengkal keindahan dan keharmonisan negara yang terkenal dengan ajaran Buddha-nya ini. 

Tak heran jika ketika berkunjung ke Thailand, kita akan mendapati banyaknya temple Buddha dan bertemu banyak biksu atau bhikkhuni dengan pakaian cokelat tanpa rambut berkeliaran.

Dalam tulisan kali ini, saya tidak akan membahas tempat wisata, melainkan pelajaran hidup yang berharga, yang disuguhkan oleh para bhikkhuni di Chiang Mai.

Pada kesempatan mengunjungi Chiang Mai-Thailand dalam program Asian Youth Academy/Asian Theology Forum (AYA/ATF 2019), saya bersama teman-teman berkesempatan mengunjungi Vat Nirotharam.

 Phra Anjahn Nanthayani, Pendiri Vat Nirotharam (Foto dari FB Vat Nirotharam)

Vat Nirotharam adalah biara khusus untuk para bhikkhuni yang terletak di Chom Thong, Chiang Mai Thailand. Biara yang didiami  kurang lebih 80 orang bhikkhuni ini dipimpin oleh Phra  Anjahn Nanthayani, yang juga merupakan pendiri Vat Nirotharam.

“Kami disini beragam latar belakang pendidikan, ada yang Phd dan bahkan yang tak berpendidikan sama sekali,” jelas pendiri Nirotharam Phra  Anjahn Nanthayani (8/8).

Ia juga menjelaskan bahwa ia dan murid-muridnya telah melepaskan segala keterikatan duniawi dan hidup bahagia mengikuti ajaran Buddha.

“Kami bersama berkumpul disini untuk untuk hidup bahagia sesuai dengan ajaran Buddha,” sambungnya.

Kunjungan peserta AYA/ATF 2019 ke Vat Nirotharam, Kamis (8/8/2019)

Keseharian Para Bhikkhuni Vat Nirotharam


Dalam ajaran Buddha, salah satu cara untuk menggapai kebahagiaan dalam hidup adalah menyucikan pikiran. Buddha percaya bahwa, semakin buruk pikiran sesorang, maka semakin buruk kehidupan yang dijalaninya. Oleh karena itu,di dalamnya diajarkan untuk bermeditasi guna menyucikan pikiran.

Para bhikkhuni di Vat Nirotharam, bermeditasi setiap hari untuk menyucikan pikiran. Meditasi ini dilakukan setiap pagi di samping danau kecil di komplek biara. Selain itu, mereka juga  mendengarkan Dhamma pada pagi dan sore.
Para Bhikkhuni dan Pengikut Awam di tepi danau Vat Nirotharam/ Foto dari FB Vat Nirotharam

Selain bermeditasi, para bhikkhuni ini juga menjaga pola makan. Dalam sehari mereka hanya makan sekali, guna tetap menjauhkan tubuh dari penyakit.

“Kami hanya makan sekali dalam sehari berupa sayur-sayuran dari penduduk sekitar. Ini baik untuk tubuh agar tak rentan terhadap banyak penyakit yang akan  menganggu pikiran dan hidup,” jelas Path.

Tak hanya makan sekali dalam sehari, mereka juga menggunduli rambut dan tidak mengenakan sandal ataupun sepatu ketika berjalan.

“Segala pusat pikiran ada di kepala. Jika kita membebani kepala kita dengan rambut yang panjang, maka ini akan sulit,” lanjutnya.

Penduduk memberikan makanan untuk para Bhikkhuni/ Foto dari FB Vat Nirotharam

Selain sebagai biara para bhikkhuni, Vat Nirotharam juga membuka pintu bagi siapapun yang hendak belajar tentang ajaran Buddha dan menyucikan pikiran tanpa harus menjadi Bikkhuni. Untuk membedakan, para awam yang masih belajar ini harus mengenakan pakaian putih.

Sejarah Bhikkhuni Buddha


Seorang biksuni atau bhikkhuni adalah sebutan bagi seorang perempuan yang ditahbiskan menjadi anggota monastic dalam agama Buddha. Para biksu dan bhikkhuni menjalani peraturan moral Buddhis yang ditetapkan sendiri oleh Buddha Gautama. (Wikipedia)

Dalam ajaran Buddha, secara eksplisit dijelaskan bahwa seorang perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki untuk mencapai nirvana dan mencapai semua tingkat pencerahan di dalam Dhamma dan Vinaya dalam ajaran Buddha.

Menurut naskah-naskah Buddhis, persaudaraan para biksuni pertama kali didirikan oleh Buddha Gautama sebagai jawaban atas permohona dari ibu tirinya, Mahapajapati Gotami, yang kemudian menjadi biksuni pertama di dunia. Inilah awal dari terbentuknya organisasi buddhis wanita pertama. 

Sejak saat itu, persaudaraan para biksuni atau bhikkhuni menyebar ke banyak negara di dunia, termasuk kawasan Asia Tenggara, termasuk Thailand.*



Jumat, 23 Agustus 2019

Mila: Perempuan Penjaga Tungku (1)

Gambar: Ilustrasi
Tungkudapur.com - Petang sekali, Mila pulang dari kebun dengan seonggok kayu bakar di atas kepalanya. Rambutnya diurai saja, nampak matanya datar melangkahkan kaki di jalanan menurun bekas rabat yang tak kunjung selesai. 

Rabat itu dibuat oleh pemerintah daerah, katanya untuk mempermudah akses masyarakat kampung ke kebun. Tapi entahlah, dua bulan berjalan proyek yang kebanyakan dikerjakan oleh anak muda putus sekolah itu terhenti.

Mila pernah membahas jalan rabat itu dengan ibunya, Mama Tina. Sebagai seorang mama yang hidupnya di kampung dan sudah terbiasa dengan janji manis pemerintah, Mama Tina tidak terlalu ambil pusing.

“Ada dan tidak adanya rabat itu kita tetap hidup. Kita bukan makan dari batu dan semen. Berhentilah mengeluh dan mengkritik sesuatu yang kau tahu bahwa itu tidak akan berubah,” tegas Mama Tina dengan intonasi sedikit marah.

Sebagai seorang anak perempuan yang  baru menyelesaikan kuliah di pulau Jawa, Mila memang selalu mengoreksi beberapa kebijakan pemerintah di daerahnya. Namun itu nampaknya tidak diterima dengan baik oleh masyarakat kampung bahkan keluarganya sendiri.

“Mama, saya mau balik ke Jawa saja. Rasanya sulit tinggal disini,” ungkap Mila pada mamanya yang sedang duduk di dekat tungku api sembari memanggang jagung muda hasil panen dari kebun.
Ekspresi mama datar saja, seolah tidak mendengar apa-apa. Bahkan tidak merespon dengan lirikan mata pun.

“Saya tidak menemukan tempat yang bisa menerima saya. Saya merasa asing di kampung sendiri ma,” lanjut Mila sambil mengorek tumpukan abu di dekat tungku.

Mama Tina yang awalnya masa bodoh memalingkan badan dan berkata dengan raut wajah yang layu “Kalau kau pergi lagi, mama dan bapa hidup sendiri. Tinggalah disini. Soal pekerjaan, bulan depan pendaftaran CPNS di buka”.

……………

“Nanti mama dan bapa jual sapi yang betina itu. Supaya kau bisa jadi PNS,” lanjut Mama.

Mila yang malang, malam ini harus tidur berteman air mata dan kecewa. Ia harus tetap di rumah. Menjaga tungku yang tak kunjung padam apinya.

Bersambung…

Di Jakarta Rindu-Rindu Membeku

di jakarta yang riuh dan terik rindu-rindu membeku membentuk jarum dan cutter tajam, menusuk mata para pekerja membilah keringat ...